Kisah Abu Nawas


( Abu Nawas dan Ayam Panggang )

TWINPOKER88QQ Suatu hari Raja Harun Ar- Rasyid geram dengan sikap Abu Nawas  karena beberapa kali telah membuatnya malu didepan pejabat kerajaan. Oleh karena itu Raja membuat jebakan kepada Abu Nawas, jika Abu Nawas gagal menghadapi jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.
Dipanggillah Abu Nawas untuk  menghadap sang  Raja, lalu akhirnya raja memulai pertanyaannya  jebakannya.

“ Hai Abu Nawas, telah ada seporsi daging  ayam panggang yang enak dan lezat didepan meja, tolong ambilkan!!” Perintah Raja.

Abu Nawas mulai curiga, karena ia tak biasa di perintah mengambil makanan oleh raja .

“ Sepertinya raja ingin menjebakku, aku harus hati-hati.” Kata Abu Nawas dalam hati.

Akhirnya Abu Nawas menuruti perintah Raja. Namun sebelum ayamnya diberikan kepada sang Raja, Raja  menghentikannya dan langsung bertanya kepada Abu Nawas.

“Abu Nawas, ditanganmu sudah ada ayam panggang lezat, silahkan dinikmati”

Spontan Abu Nawas langsung hendak menyantapnya, tiba-tiba raja berkata lagi.

“Tapi ingat wahai Abu Nawas, dengarkan arahan dariku. Jika kamu memotong paha ayam tersebut, maka  aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam, aku akan memotong dadamu. Tidak itu saja, jika kamu memotong dan memakan ayam itu , maka aku tidak segan memotong kepalamu, tapi jika kau hanya mendiamkan ayam itu akibatnya kau akan kugantung ”

Abu Nawas merasa kebingungan  dengan pilihan yang diberikan oleh sang Raja, ia semakain yakin bahwa  ini Cuma akal-akalan sang raja demi ingin menghukumnya. Tidak hanya Abu Nawas ternyata pejabat yang berada disitu merasakan ketegangan atas pilihan sang raja.

Berselang 10 menit kemudian,  sambil berfikir Abu Nawas membolak-balikkan ayam panggang tersebut. Sejenak suasana menjadi hening, lalu Abu Nawas mendekatkan ayam panggang tepat di indera penciumannya.

Orang-orang yang berada disitupun merasa bingung dan tidak mengerti apa yang hendak Abu Nawas  lakukan. Tidak berselang lama terlihat abu bawas mendekatkan ayam panggang itu tepat dibagian pantat daging ayam panggang dan  langsung mencium pantat itu.

Selesai mencium pantat ayam bakar tersebut, Abu Nawas berkata :

“Seperti yang baginda ucapkan tadi, Jika saya harus memotong paha ayam ini, maka baginda raja akan memotong paha saya. Jika saya harus memotong dada ayam ini, maka Baginda akan memotong dadaku. Jika saya harus memotong kepala ini , maka baginda akan memenggal kepalaku pula. Tetapi coba baginda lihat apa yang saya lakukan?. Saya mencium pantat ayam ini.”

“Apa maksudmu Abu  Nawas?” Tanya baginda kaget

“Maksud saya adalah kalau saya melakukan demikian maka Baginda juga akan membalasnya demikian seperti ayam ini. Nah, kan saya sudah mencium pantat ayam ini, maka baginda juga harus melakukan seperti yang saya lakukan yaitu mencium pantat ini juga ” Jelas Abu Nawas.

Sontak penjelasan Abu Nawas menambah ketegangan suasana . Para hadirin berusaha menahan tawa namun ragu karena takut dihukum raja. Sedangkan wajah raja langsung memerah dan mulai merasa malu karena jebakannya justru berbalik kepada dirinya  sendiri.

Untuk kesekian kalinya raja harus menanggung malu lagi. Untuk menutupi rasa malunya, beliau raja langsung memerintahkn Abu Nawas untuk pulang dan  membawa ayam panggang tersebut.

“Wahai  Abu Nawas, cepatlah pulang!  jangan sampai aku berubah pikiran” Kata Raja

Setibanya di rumah, Abu Nawas mengundang tetangganya untuk makan ayam panggang  tersebut. Dan tertawa mendengar cerita Abu Nawas tadi


( Abu Nawas dan Telur Unta )

Suatu hari Raja Harun Ar- Rasyid menderita suatu penyakit yang  aneh. Tubuh raja tiba- tiba kaku dan terasa pegal. Suhu badannya naik dan tidak kuat untuk melangkah. Penyakitnya semakin parah saat sang raja tidak mau makan.

Berbagai usaha telah dilakukan, hingga tabib dari manapun telah didatangkan , dan obat apapun dicoba, namun hasilnya tetap. Sang raja pun tak kunjung sembuh. Namun ternyata raja tidak menyerah. Sang raja akhirmya mengadakan sayembara dengan hadiah yang besar untuk ornag yang dapat menyembuhkannya.

Berita sayembara akhirnya terdengar oleh Abu Nawas. Abu Nawaspun tertarik  untuk mengikuti sayembara.  Tanpa berfikir lama Abu Nawas langsung menuju ke Istana Raja.

Kedatangan Abu Nawas untuk mengobati raja  membuat sang raja heran .

“ Wahai Abu Nawas, mengapa kau mengikuti sayembara ini, padahal engkau bukan tabib?” Tanya sang raja.

“ Hehehe.., tuan raja jangan hanya melihat penampilanku saja, begini begini aku bisa menyembuhkan orang yang sakit seperti raja” Jawab Abu Nawas.

“Benarkah?” Sang rajapun kaget.

“ Tentu tuan raja” Jawab Abu Nawas meyakinkan.

“Sebenarnya sakit apa yang tuan raja derita?” Tanya Abu Nawas kembali.

“Aku juga tidak tahu, tapi seluruh tubuhku terasa sakit dan badanku panas Abu Nawas” Keluh Raja

“Hahaha” Abu Nawas justru tertawa terbahak-bahak

“Apa yang lucu Abu Nawas?” Tanya sang raja

“Sebenarnya penyakit seperti itu gampang sekali tuan untuk mencari obatnya” Jelas Abu Nawas

“ Sungguh, apa nama obat itu, lalu dimana bisa saya dapatkan obat itu.” Bujuk Abu Nawas penasaran.

“Baiklah, akan saya beritahu tuan Raja. Carilah dulu telur unta itu. Anda bisa mendapatkan dikota Baghdad ini” Terang Abu Nawas.

Seperti mendapat anugerah, sang raja  merasa sangat gembira mendengar informasi tersebut dan bersemangat untuk mendapatkan obat itu.

“ Wahai Abu Nawas, awas kalau kau berbohong, akan ku hukum kau” Ancam sang raja

“Cari dulu telur untanya, janganlah kau asal main hukum saja tuan” sanggah Abu Nawas

Keesokan harinya  dengan semangat untuk sembuh, sang raja berangkat dengan pengawalnya untuk mencari telur unta yang dimaksud oleh Abu Nawas. Ia sengaja  menyamar menjadi rakyat biasa supaya tidak ada yang mengetahui bahwasanya dia adalah raja.

Pasar- pasar di kota Baghdad telah raja kunjungi, namun hasilnya nihil. Telur unta yang ia caripun tidak berhasil raja temukan. Namun raja tidak menyerah, ia mencoba mencari kerumah- rumah warga . Namun tetap saja telur unta tidak ada.  Hingga akhirnya sampailah disebuah hutan. Pengawalpun nampaknya kelelahan, namun sang raja tidak menghiraukannya.

“Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan ku hukum kau” Gerutu raja

“Pengawal, bersiaplah kau untuk menghukum Abu Nawas” Perintah sang raja

“Siap tuan, lebih baik kita pulang saja sekarang. Sepertinya memang kita tidak ,menemukan telur itu” Jawab pengawal

Namun raja masih bimbang dengan keputusannya, sambil berfikir ulang. Tiba- tiba seorang kakek lewat dengan membawa ranting

“Tunggu dulu pengawal, coba tanyakan dulu kepada satu orang lagi”

“Baiklah tuan”

Sang raja akhirnya menghampiri kakek tersebut, namun melihat kondisi kakek yang sudah renta , sang raja menawarkan jasa untuk membawa kayu-kayu itu.

Sesampainya dirumah, kakek berterima kasih kepada raja

“Terimakasih nak, semoga Allah membalas kebaikanmu” Ucap sang kakek.

“Sama-sama kek” Jawab raja singkat.

“Oh ya kek, saya mau tanya. Apakah kakek punya telur unta?” Tanya raja yang sejak kemarin belum ditemukan

“Telur Unta?” Tanya kakek heran.

“Hahahaha” tiba-tiba kakek tertawa terbahak-bahak.

“Apakah pertanyaan saya salah kek”  Tanya raja ragu.

“Nak, didunia ini mana ada telur unta. Setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan, bukan bertelur. Jadi mana ada telur unta?” Jelas Kakek.

Mendengar penjelasan kakek, sang raja dan pengawal sontak kaget.

“Astagaa, Benar juga. Mana ada ada telur unta, kan unta melahirkan bukan bertelur” Gumam raja baru tersadar.

“Awas kau Abu Nawas”  tambah sang raja.

Dengan perasaan jengkel akhirnya sang raja dan pengawal kembali dengan tangan kosong. Keesokan harinya sang raja pun memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya. Raja hendak memberi pelajaran kepada Abu Nawas karena telah berani mempermainkan sang raja.

Beberapa saat kemudian Abu Nawaspun tiba, namun dengan santainya Abu Nawas memberi senyum jenaka kepada raja.

“Hai Abu Nawas, beraninya kau membohongiku, sesuai dengan keputusanku bahwa aku akan menghukummu jika kau berbohong padaku. Mana ada telur unta. Unta itu melahirkan bukan bertelur.” Jelas Raja

“ Anda benar tuan.” Jawab Abu Nawas membenarkan.

“Lantas kenapa kau menyuruhku mencari telur unta? pokoknya sekarang kamu harus dihukum!!”. Perintah raja

“Tunggu dulu tuan, sebelumnya saya ingin bertanya”

“Tanya apa “

“Bagaimana kondisi tubuh tuan sekarang?”

“Aku merasa tubuhku sudah tidak pegal dan sakit seperti kemarin, suhu badanku juga turun” Raja pun terdiam sejenak.

“Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitku hilang Abu Nawas”

“Aku faham, ternyata perjalananku kemarin membuat tubuh-tubuhku yang awalnya tidak bergerak, sekarang bergerak. Dan itu membuat aliran darahku menjadi lancer. Itu penyebabnya , terimakasih Abu Nawas.”

“Benar tuan, tubuh anda tidak dibiasakan untuk bergerak, sehingga aliran darah tuan membeku dan akhirnya menjadi penyakit. Untuk itulah saya menyarankan  anda untuk bergerak dengan mencari telur unta tersebut.”

“Memang benar Abu Nawas, akhir- akhir ini saya jarang bergerak dan sering makan, itu mungkin penyebab saya sakit. Maafkan aku Abu Nawas telah memarahimu. Aku tidak akan menghukummu, namun aku justru akan memberi hadiah kepadamu karena kamu telah memberiku saran yang luar biasa”

“Terimakasih tuan” Jawab Abu Nawas.



( Menampar Pipi Raja )

Suatu ketika Abu Nawas mampir kerumah temannya, seorang  yahudi. Ternyata pada hari itu tengah berlangsung  suatu pertunjukan musik. Acara nya begitu meriah dan penontonpun begitu ramai semua tamu terlibat dalam acara tersebut termasuk Abu Nawas.

Saat  acara selesai semua penonton kehausan dan tuan rumahpun menyuguhkan minuman kepada hadirin. Masing- masing mendapatkan secangkir kopi. Namun ketika hendak meminumnya  tiba- tiba ia ditampar oleh si yahudi tadi, karena masih dalam keadaan ramai dan suasana kegembiraan. Hal tersebut tidak dihiraukan kemudian diangkatlah cangkir tadi namun lagi-lagi Abu Nawas ditampar.

Tidak diduga, ternyata tamparan yang diterima oleh Abu Nawas cukup banyak sampai akhir acara. Sembari berjalan pulang, Abu Nawas pun menggerutu.

“Sungguh jahatnya orang yahudi itu, main tampar aja. Perbuatan kayak gini gak boleh dibiarin ” gumamnya.

“Tapi, apalah dayaku hendak melarangnya aku bukan siapa-siapa” tambahnya.

Tiba-tiba  Abu Nawas punya akal, ia hendak mengajak raja ketempat tersebut.

Keesokan harinya, Abu Nawas menemui sang raja di istana

“Tuan raja, akan kukabarkan berita yang belum tuan ketahui”

“Apa itu Abu Nawas?”

“Ternyata, dinegeri ini ada permainan yang belum hamba kenal dan sangat aneh” Lapor Abu Nawas.

“Dimana?” Tanya raja.

“Ditepi hutan sana tuan” Jawabnya.

“Ya sudah, mari kita lihat” Ajak raja

“ Nanti malam saja tuan. Kita memakai pakaian santri ” Saran Abu Nawas.

Malam pun tiba, berangkatlah Raja ditemani oleh Abu Nawas ke tempat yang dimaksud Abu Nawas, yaitu kediaman orang yahudi tersebut. Setelah sampai disana si Yahudi tersebut tengah asyik bermain musik dengan teman-temannya, lalu sang raja pun di persilahkan duduk .

Tidak berselang lama, sang raja di ajak menari oleh si yahudi, namun raja menolak. Si yahudi pun akhirnya menampar dan memaksa sang raja.Sang raja akhirnya menyadari, ternyata permainan inilah yang dimaksudkan oleh Abu Nawas. Tapi apalah daya raja tidak bisa menolaknya setelah dipaksa lagi,

Sang raja pun menari dengan perasaan terpaksa dan keringat yang membasahi sekujiur tubuhnya. Seperti biasa setelah usai menari tuan rumah pun memberikan minuman kepada para undangan. Sementara Abu Nawas berpura-pura izin ke toilet untuk  pulang kerumah dan meninggalkan sang raja sendirian.

“Biarkan baginda merasakan sendiri , jika tidak begitu tuan tidak akan mengetahuk keadaan rakyatnya sendiri dan hanya percaya pada laporan menteri dan pengawal” ucap Abu Nawas dalam hati.

Sang raja tetap berada dalam acara tersebut. Namun sayangnya ketika sang raja hendak mengangkat kopi dicangkirnya, sang raja pun terkena tamparan si yahudi seperti yang dialami Abu Nawas kemarin. Hal itu terus  berulang sampai kopi dalam cangkir tersebut tinggal sedikit.

Acara pun telah usai dan sang raja akhirnya pulang sendirian.

Keesokan harinya, sang raja langsung mengutus pengawal untuk  memanggil Abu Nawas supaya menghadapnya.

Abu Nawas pun datang menghadap raja

“Wahai abu nawas, apa yang kau lakukan tadi malam? Baik sekali perbuatanmu, kau biarkan aku sendiri di permalukan seperti itu” Tanya baginda dengan perasaan kesal.

“Wahai tuan raja, hamba mohon maaf atas perlakuanku tadi malam. Tapi saya hendak melaporkan bahwa sebelumnya saya juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami tuan. Namun setelah saya berfikir apabila hal tersebut saya laporkan jujur pasti tuan tidak akan percaya. Maka dari itu saya langsung bawa tuan ke sana supaya tuan sendiri dan mengetahui apa yang rakyat lakukan dan juga rasakan” Jelas  Abu Nawas membela diri

Sang raja terdiam, dan akhirnya tidak bisa membantah ucapan Abu Nawas. Lalu disuruhnya pengawal untuk memanggil si Yahudi tersebut.

Si Yahudi pun datang.

“Hai  si yahudi, mengapa engkau berani- beraninya menamparku tadi malam ?” Tanya raja marah

“Wahai tuan raja, hamba tadi malam tidak mengetahui bahwa itu adalah engkau tuan raja. Jika kalau tahu pasti aku tidak akan berani menampar tuan.” Jawab si yahudi membela diri.

Namun ternyata pembelaan si yahudi tidak ada gunanya. Sang raja langsung memerintahkan pengawal untuk menyeret  si yahudi kedalam penjara.

“Sekarang terimalah pembalasanku” Ucap raja

“Ampuni hamba tuan” mohon si yahudi.

Setelah kejadian itu, sang raja sadar bahwa ia harus memperhatikan rakyatnya. Raja juga berterimakasih kepada Abu Nawas atas laporannya sehingga ia dapat merasakan menjadi rakyat biasa.